Indra Saputra, S.Pd • Sejarah XI (Fase F) • SMAN 2 Karang Intan
Budi Utomo, Sarekat Islam, dan Indische Partij (1908β1913)
Sebelum abad ke-20, perlawanan rakyat terhadap kolonialisme umumnya bersifat fisik, kedaerahan, dan primordial β mengandalkan kekuatan senjata di bawah satu tokoh lokal, tanpa organisasi permanen dan mudah dipadamkan begitu pemimpinnya tertangkap atau gugur. Awal abad ke-20 menjadi panggung lahirnya berbagai organisasi modern yang mengubah pola ini menjadi perjuangan terorganisasi, berkelanjutan, dan berbasis keanggotaan luas. Namun, masing-masing organisasi memiliki sudut pandang berbeda mengenai cara terbaik untuk memperjuangkan nasib rakyat. Strategi perjuangan berkembang secara gradual dari yang bersifat moderat-kooperatif (kompromis), bertransisi ke sosio-ekonomi kerakyatan, hingga memuncak pada pergerakan radikal-politik non-kooperatif.
Perbedaan taktik ini sangat dipengaruhi oleh latar belakang sosial para pendirinya, tingkat keberanian menentang pemerintah kolonial, serta basis massa yang disasar.
Didirikan oleh Soetomo dan para mahasiswa STOVIA atas dorongan gagasan Studiefonds (dana pendidikan) dr. Wahidin Soedirohoesodo. Budi Utomo merupakan organisasi modern pertama di Nusantara β nilai historisnya bukan pada keberanian politiknya, melainkan pada keberhasilannya menjadi pelopor pengubah pola perlawanan: dari sekadar perlawanan fisik kedaerahan yang sporadis, menjadi wadah perjuangan terstruktur dengan anggaran dasar, pengurus, dan program kerja yang jelas. Strategi utama Budi Utomo berfokus pada pengembangan pendidikan, kebudayaan, dan penguatan ekonomi khusus Jawa dan Madura.
Budi Utomo memilih asas kooperatif (bekerja sama dengan pemerintah Belanda) dan bersifat moderat. Mereka menghindari isu politik konfrontatif agar tidak dibubarkan oleh pemerintah kolonial, serta lebih banyak diisi oleh golongan priyayi/pNS kolonial.
Awalnya didirikan oleh H. Samanhudi di Surakarta pada tahun 1905 (resmi 1911) dengan nama Sarekat Dagang Islam (SDI) untuk melindungi pedagang batik pribumi dari monopoli pedagang Tionghoa dan hisapan modal asing. Pada tahun 1912, di bawah kepemimpinan H.O.S. Cokroaminoto, nama organisasi diubah menjadi Sarekat Islam (SI) agar keanggotaannya tidak terbatas pada pedagang saja, melainkan seluruh rakyat pribumi muslim.
SI memanfaatkan agama Islam sebagai identitas pemersatu lintas etnis. Taktiknya berfokus pada advokasi sosial-ekonomi, menentang kapitalisme yang menindas, dan membela hak-hak buruh serta petani. Berbeda dengan Budi Utomo yang pimpinannya didominasi priyayi/pegawai birokrasi kolonial (sehingga cenderung berhati-hati agar tidak menyinggung pemilik modal), basis massa SI justru berasal dari rakyat kecil (pedagang, buruh, petani) yang merasakan langsung tekanan ekonomi kolonial β sehingga wajar taktiknya lebih berani menyuarakan kritik sosial-ekonomi.
Didirikan di Bandung pada 25 Desember 1912 oleh Tiga Serangkai: E.F.E. Douwes Dekker (Danudirdja Setiabudi), R.M. Soewardi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantara), dan dr. Cipto Mangunkusumo. Indische Partij (IP) merupakan partai politik murni pertama di Hindia Belanda yang secara tegas mengusung ideologi Indische Nationalism (nasionalisme Hindia untuk semua yang menganggap Hindia sebagai tanah airnya, termasuk Indo-Eropa dan Pribumi).
Taktik IP bersifat radikal dan non-kooperatif dengan jargon mendobrak: "Indie voor Indiers" (Hindia untuk orang Hindia). Mereka secara terbuka menuntut kemerdekaan dari penjajahan Belanda.
Pemerintah kolonial Belanda merencanakan perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari kekuasaan Prancis pada tahun 1913. Pesta ini ironisnya dibiayai menggunakan uang pungutan dari rakyat jajahan Hindia Belanda. Menanggapi hal ini, Soewardi Soerjaningrat menulis risalah/artikel kritis yang sangat pedas berjudul "Als ik eens Nederlander was" (Seandainya Aku Seorang Belanda) β tulisan ini membongkar ironi dan kontradiksi moral penjajah yang merayakan kemerdekaan dirinya sendiri dengan uang dari rakyat yang justru dijajahnya.
Akibat artikel tersebut dan taktik radikal yang diusung, Gubernur Jenderal Idenburg menolak permohonan badan hukum IP. Tiga Serangkai kemudian ditangkap dan dijatuhi hukuman pengasingan (internir) ke Negeri Belanda pada tahun 1913. IP pun resmi dinyatakan sebagai organisasi terlarang.
Berikut adalah perbandingan ringkas strategi taktis ketiga organisasi pergerakan awal:
| Organisasi | Tokoh Kunci | Fokus Utama | Sifat Perjuangan |
|---|---|---|---|
| Budi Utomo | Soetomo, Dr. Wahidin | Pendidikan & Kultural Jawa | Moderat, Kooperatif |
| Sarekat Islam | H. Samanhudi, Cokroaminoto | Ekonomi Kerakyatan & Advokasi | Massa Islam, Kompromis-Kritis |
| Indische Partij | Tiga Serangkai | Politik Kemerdekaan Hindia | Radikal, Non-Kooperatif |
Materi pembelajaran telah selesai dibaca. Langkah berikutnya adalah menguji kemampuan analisis kritis Anda mengenai perbandingan strategi taktis Budi Utomo, Sarekat Islam, dan Indische Partij melalui Kuis Evaluasi HOTS (C5βC6).
Aturan dan Tata Cara Pengerjaan:
Pembahasan lengkap akan disampaikan langsung oleh guru di kelas.