Indra Saputra, S.Pd • Sejarah XI (Fase F) • SMAN 2 Karang Intan
Siswa dapat memahami bahwa organisasi pergerakan menghadapi kondisi politik yang berubah. Tujuan perjuangan dapat dipertahankan, sementara cara mencapainya dapat disesuaikan dengan peluang, hambatan, dan risiko pada zamannya.
Jika tujuan perjuangan tetap sama tetapi keadaan politik berubah, apakah strategi perjuangan juga perlu berubah? Apa keuntungan dan risikonya?
Perjuangan pergerakan nasional juga berkembang di kalangan mahasiswa Indonesia yang belajar di Belanda. Pada 1908 mereka membentuk Indische Vereeniging. Pada awalnya organisasi ini menjadi tempat berkumpul dan berkomunikasi, tetapi kemudian pembahasannya semakin banyak menyentuh persoalan politik dan masa depan Indonesia.
Pada 1920-an, pemikiran para mahasiswa semakin berkembang. Mereka mulai menempatkan identitas “Indonesia” sebagai identitas bersama dan membahas kemerdekaan sebagai tujuan politik. Nama organisasi kemudian berubah menjadi Indonesische Vereeniging dan selanjutnya dikenal sebagai Perhimpunan Indonesia (PI). Majalah Indonesia Merdeka membantu menyebarkan gagasan tersebut.
Setelah arah perjuangan PI semakin jelas, para tokohnya menyusun Manifesto Politik 1925. Manifesto ini menjadi pedoman tentang bagaimana mereka melihat perjuangan menuju Indonesia merdeka.
Sederhananya, ada empat gagasan penting:
Pada 1926 terjadi pemberontakan PKI di beberapa wilayah Jawa, kemudian pada 1927 terjadi pemberontakan di Sumatra Barat. Pemberontakan ini gagal dan pemerintah kolonial Belanda kemudian memperketat pengawasan terhadap gerakan politik.
Pada akhir 1920-an, pemerintah kolonial meningkatkan penangkapan, pengawasan, dan pembatasan kegiatan politik. Soekarno ditangkap pada 1929. Sejumlah aktivis juga mengalami pembuangan ke tempat pengasingan, termasuk Boven Digoel di Papua. Di Belanda, tokoh PI seperti Mohammad Hatta sempat diadili pada tahun 1927 (terkenal dengan pidato pembelaan "Indonesia Vrij"/Indonesia Merdeka), meski akhirnya dibebaskan.
Lumpuhnya gerakan radikal akibat penangkapan dan pembuangan ke Boven Digoel menciptakan kehampaan kepemimpinan. Tokoh-tokoh pergerakan yang tersisa menyadari bahwa melanjutkan taktik radikal-non-kooperatif dalam situasi otoriter Belanda yang represif adalah langkah yang memiliki risiko sangat besar bagi kelangsungan organisasi.
Pada 1930-an, sebagian organisasi dan tokoh menggunakan strategi yang lebih moderat. Mereka memanfaatkan ruang politik resmi yang masih tersedia, termasuk Volksraad, untuk menyampaikan pendapat dan tuntutan. Para pejuang memilih masuk ke dalam dewan perwakilan bentukan Belanda, yaitu Volksraad (Dewan Rakyat), guna memperjuangkan nasib rakyat dari dalam sistem hukum resmi.
Pada 1930-an muncul berbagai organisasi politik dengan cara perjuangan yang berbeda. Di antaranya adalah Parindra dan Gerindo. Sebagian tokoh memanfaatkan lembaga resmi seperti Volksraad untuk menyampaikan tuntutan politik.
Puncak perjuangan diplomasi moderat di Volksraad terjadi pada tahun 1936 saat Soetardjo Kartohadikoesoemo mengajukan usulan yang dikenal sebagai Petisi Soetardjo. Petisi ini memohon agar Indonesia diberi status otonomi/pemerintahan mandiri (dominion) di bawah Kerajaan Belanda dalam waktu 10 tahun. Namun pada tahun 1938, Ratu Wilhelmina dan Pemerintah Belanda secara resmi menolak Petisi Soetardjo.
Penolakan ini menjadi salah satu latar yang mendorong kerja sama antarkelompok politik dalam wadah GAPI (Gabungan Politik Indonesia) pada tahun 1939 di bawah pimpinan M.H. Thamrin dengan tuntutan terkenal: "Indonesia Berparlemen".
Jika kita mengikuti urutannya, terlihat bahwa cara perjuangan dapat berubah ketika keadaan politik berubah. Pada 1920-an, Perhimpunan Indonesia menekankan persatuan, kemandirian, dan non-kooperasi. Setelah tekanan pemerintah kolonial meningkat pada akhir 1920-an, pada 1930-an sebagian tokoh memilih memanfaatkan jalur politik resmi seperti Volksraad. Perubahan taktik tidak otomatis berarti perubahan tujuan utama, tetapi dapat mencerminkan respons terhadap peluang dan tekanan yang berbeda. Perubahan tersebut tidak berarti semua organisasi memiliki cara yang sama. Yang penting dipahami adalah bahwa para pelaku sejarah menghadapi kondisi yang berbeda dan membuat pilihan strategi berdasarkan keadaan yang mereka hadapi.
Materi pembelajaran telah selesai dibaca. Langkah berikutnya adalah menguji kemampuan analisis kritis Anda mengenai Manifesto Politik Perhimpunan Indonesia dan transisi taktik 1930-an melalui Kuis Evaluasi HOTS (C5–C6).
Aturan dan Tata Cara Pengerjaan: