Indra Saputra, S.Pd • Sejarah XI (Fase F) • SMAN 2 Karang Intan
Sejak akhir abad ke-19, Jepang mengalami transformasi modernisasi kilat melalui Restorasi Meiji (1868) yang mengikutsertakan doktrin militerisme Hakko Ichiu (prinsip dunia sebagai satu keluarga di bawah pimpinan Kaisar Jepang). Modernisasi industri memacu Jepang membutuhkan bahan mentah (minyak bumi, karet, besi) serta pasar ekspansi baru.
Agresi militer Jepang ke Tiongkok (1937) memicu respons balasan dari pihak Sekutu (Amerika Serikat, Inggris, Belanda). Pada pertengahan tahun 1941, Amerika Serikat memberlakukan embargo minyak bumi terhadap Jepang. Karena cadangan minyak Jepang diperkirakan akan habis dalam kurun waktu dua tahun, Jepang mengambil keputusan strategis untuk menguasai wilayah kaya sumber daya alam di Asia Tenggara, khususnya Hindia Belanda (Indonesia) yang kaya akan minyak bumi di Tarakan dan Palembang.
Guna melumpuhkan kekuatan Sekutu di Pasifik, Jepang melancarkan serangan mendadak ke pangkalan militer AS di Pearl Harbor, Hawaii pada 7 Desember 1941. Peristiwa ini menandai dimulainya Perang Pasifik (Perang Asia Timur Raya).
Pasukan Jepang bergerak cepat ke selatan: menguasai Tarakan (Januari 1942), Balikpapan, Palembang, hingga akhirnya mendarat di Pulau Jawa (Banten, Eretan, dan Kragan) pada awal Maret 1942. Pasukan Belanda yang terdesak terpaksa menyerah tanpa syarat kepada Jepang di bawah pimpinan Jenderal Hitoshi Imamura pada 8 Maret 1942 di Kalijati, Subang (diwakili oleh Panglima Ter Poorten dan Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer). Peristiwa ini secara resmi mengakhiri kekuasaan penjajahan Belanda selama ratusan tahun di Nusantara.
Setelah menguasai Indonesia, Jepang tidak membentuk satu pemerintahan sipil terpusat, melainkan membagi Indonesia menjadi tiga wilayah pemerintahan militer guna mempermudah eksploitasi perang:
Kedatangan Jepang pada awalnya disambut dengan hangat dan simpati antusias oleh sebagian besar rakyat serta tokoh pergerakan Indonesia. Faktor-faktor penyebabnya meliputi:
Guna memobilisasi simpati massa dan sumber daya rakyat untuk Perang Pasifik, Jepang membentuk organisasi propaganda pertama pada April 1942 bernama Gerakan 3A di bawah pengawasan Bagian Propaganda Militer (Sendenbu) dengan tokoh propaganda dari Jepang, Hitoshi Shimizu.
Gerakan ini dipimpin oleh tokoh nasionalis Mr. Raden Samsoedin dengan mengusung tiga slogan utama:
Mengapa Gerakan 3A Gagal?
Gerakan 3A hanya bertahan beberapa bulan dan dibubarkan pada akhir 1942 karena dianggap tidak efektif. Rakyat Indonesia dengan cepat menyadari bahwa gerakan ini murni menguntungkan Jepang tanpa ada janji konkret kemerdekaan. Selain itu, tokoh-tokoh utama nasionalis seperti Soekarno dan Hatta menolak terlibat penuh di dalamnya karena memandang Mr. Samsoedin kurang memiliki pengaruh karismatik masif di mata rakyat.
Pendudukan Jepang di Indonesia berawal dari krisis Perang Pasifik dan kebutuhan bahan mentah. Meski diawali dengan intrik manipulatif propaganda "Saudara Tua" dan Gerakan 3A, masa pendudukan ini pada akhirnya membuka fakta pahit bahwa pendudukan Jepang berlangsung dalam kondisi perang dan ditandai berbagai bentuk represi, pengerahan tenaga, serta eksploitasi sumber daya yang menimbulkan penderitaan luas bagi masyarakat.
Materi pembelajaran telah selesai dibaca. Langkah berikutnya adalah menguji kemampuan analisis kritis Anda mengenai Latar Belakang Pendudukan Jepang dan Propaganda 3A melalui Kuis Evaluasi HOTS (C5–C6).
Aturan dan Tata Cara Pengerjaan: