Indra Saputra, S.Pd • Sejarah Kelas XI (Fase F) • SMAN 2 Karang Intan
Sebelum abad ke-20, ekspansi kolonial Hindia Belanda berfokus pada eksploitasi ekonomi tanpa memperhatikan kesejahteraan rakyat pribumi. Melalui kebijakan Tanam Paksa (Cultuurstelsel) yang diterapkan sejak tahun 1830 oleh Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch, rakyat dipaksa menyerahkan tanah dan tenaga kerjanya. Akibatnya, pada akhir abad ke-19 terjadi kelaparan hebat dan kemiskinan struktural di berbagai wilayah Jawa (seperti Demak dan Grobogan).
Kritik dari wartawan Pieter Brooshooft dan advokasi hukum dari C.Th. van Deventer melalui artikel terkenal berjudul "Een Eereschuld" (Utang Kehormatan) pada majalah De Gids (1899) mendesak Kerajaan Belanda mengembalikan kekayaan yang telah diserap dari Nusantara.
Maka pada tahun 1901, Ratu Wilhelmina secara resmi mengumumkan kebijakan Politik Etis (Ethische Politiek) yang berpilar pada Trias van Deventer:
Pendidikan dalam Politik Etis awalnya ditujukan hanya untuk menghasilkan tenaga administrasi dan medis tingkat bawah yang murah demi efisiensi pemerintah kolonial. Salah satu sekolah terpenting adalah STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen), yaitu sekolah dokter pribumi di Batavia.
Di tempat inilah pemuda dari berbagai daerah (Jawa, Sumatra, Minahasa, Ambon) bertemu. Gagasan dr. Wahidin Soedirohoesodo mengenai dana pendidikan (Studiefonds) menginspirasi Soetomo bersama rekan-rekan sesama mahasiswa STOVIA, seperti Goenawan Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat, untuk merumuskan gagasan tersebut menjadi organisasi resmi bernama Budi Utomo pada 20 Mei 1908. Peristiwa ini menandai dimulainya era Pergerakan Nasional secara organisasi modern.
Selain organisasi modern seperti Budi Utomo, ada instrumen lain yang sama pentingnya dalam menyatukan kesadaran kebangsaan: pers/media cetak berbahasa Melayu. Salah satu pelopornya adalah Tirto Adhi Soerjo, yang mendirikan surat kabar Medan Prijaji pada tahun 1907 β surat kabar pertama yang dikelola dan diperuntukkan bagi kalangan pribumi. Surat kabar ini secara terbuka memuat kritik terhadap ketidakadilan birokrasi kolonial, sesuatu yang sebelumnya jarang berani disuarakan.
Fenomena ini dijelaskan oleh sejarawan Benedict Anderson dengan konsep Imagined Community (Komunitas Terbayang): sekelompok orang bisa merasa menjadi "satu bangsa" meski tidak pernah bertemu langsung satu sama lain, karena mereka membaca bahan bacaan yang SAMA, dalam bahasa yang SAMA (Melayu), pada waktu yang hampir bersamaan.
Selain dorongan dalam negeri, faktor eksternal memegang peranan krusial sebagai pemicu (catalyst). Peristiwa terpenting adalah Perang Jepang-Rusia (1904β1905) yang berakhir dengan kemenangan mutlak armada laut Jepang di bawah pimpinan Laksamana Heihachiro Togo dalam Pertempuran Tsushima.
Selama berabad-abad berkembang mitos rasial *White Supremacy* (superioritas bangsa kulit putih Barat) bahwa bangsa Asia tak mungkin mengalahkan bangsa Eropa dalam perang modern. Kemenangan Jepang meruntuhkan mitos tersebut secara instan dan membakar rasa percaya diri bangsa-bangsa terjajah di Asia, termasuk para cendekiawan pribumi Hindia Belanda.
Semangat pergerakan di Hindia Belanda juga dipengaruhi secara langsung oleh gerakan pembebasan nasional di kawasan Asia lainnya:
Lahirnya Pergerakan Nasional Indonesia bukan disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan hasil sintesis komprehensif antara Faktor Internal (penderitaan akibat kolonialisme, hadirnya Politik Etis, lahirnya cendekiawan pribumi, serta peran pers/media cetak) dengan Faktor Eksternal (Kemenangan Jepang 1905, Revolusi Tiongkok, dan Gerakan Pembebasan Asia).
Materi pembelajaran telah selesai dibaca. Langkah berikutnya adalah menguji pemahaman kritis dan analisis Anda melalui Kuis Evaluasi HOTS (C5βC6).
Aturan dan Tata Cara Pengerjaan: